AKU DAN SAYA?

 

Oleh : M. Jamil UH[1]

 

Dewasa ini makna AKU dan SAYA hampir tidak lagi ditempatkan ditempat yang seharusnya, berbicara dengan sapaan aku pada seseorang yang umurnya di atas kita bahkan jauh lebih tua dari kita, itu pun masih banyak yang melontarkan sapaannya dengan kata AKU. Apakah teman-teman tahu apa itu perbedaan dari kata AKU dan kata SAYA ? mungkin secara sederhana pasti semua tahu apa itu makna sapaan dengan kata AKU dan kata SAYA. Apabila ada teman-teman atau adik-adik yang belum tahu sepenuhnya menempatkan kata aku dan kata saya, kini penulis akan mencoba menjawab sebisa penulis, dan bila ada kesalahan atau pun kekeliruan dalam mendefinisikan kata AKU dan kata SAYA, mohon teman-teman beri masukan atau perbaiki kata-kata saya nantinya. Okey…

Agar lebih bisa kita bedakan kata AKU dan kata SAYA, maka penulis mencoba uraikan sebagai berikut:

  1. Menurut Penulis bahwasannya kata AKU itu biasanya sapaan seseorang karib pada seseorang karib lainnya yang seumuran dengannya, atau sapaan seseorang kepada orang yang dibawah umurnya. Gimana ? Apakah teman-teman atau adik-adik mengerti apa yang saya uraikan diatas? Kalau belum mengerti yang saya maksudkan di atas sungguh TERLALUU,,hehe.. bercanda,,,, gini maksudnya perkataan AKU biasanya atau sewajarnya atau selayaknya itu kita lontarkan kepada teman sebaya kita, atau sapaan kita untuk para adik-adik kita (yang umurnya dibawah umur kita).
  2. Sedangkan kata SAYA, menurut penulis kata saya itu biasanya sapaan seseorang pada seseorang yang umurnya diatas umur kita, atau sapaan seseorang kepada orang yang lebih tua dari kita. Gimana ? Apakah teman-teman atau adik-adik mengerti dengan apa yang penulis uraikan diatas? Kalau belum mengerti juga bahwasannya kata SAYA itu sapaan kita kepada kakak kita, bapak kita, ibu kita, nenek kita, kakek kita, paman kita, bibi kita, dan lain-lain yang umurnya di atas kita.

Itulah uraian sederhana yang bisa penulis suguhkan terkait makna AKU dan SAYA, mudah-mudahan dengan uraian sederhana yang penulis paparkan diatas, paling tidak bisa sedikit kita membedakan penempatan kata AKU dan kata SAYA dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari.

Ada beberapa kasus yang sering penulis jumpai dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. KASUSNYA SEPERTI INI, pada suatu hari ketika dalam ruangan kuliah, dalam keasikan mendengarkan ceramah yang diuraikan oleh salah satu dosen pada saat kuliah, setelah dosennya menjelaskan pancang lebar terkait materi tersebut lalu dosen itu untuk sementara menyudahi ceramahnya lalu menanyakan pada para mahasiswa-mahasiswanya. Mahasiswa-mahasiswi ku sekalian apakah dalam penyampaian materi yang saya jelaskan dari tadi masih ada yang belum jelas atau masih ada yang ingin kalian tanyakan terkait masalah itu?? Penanya pertama mengangkat tangan tanda dia ingin menanyakan[2] sesuatu, gini pak, SAYA mau tanya sama bapak terkait apa yang bapak jelaskan dari tadi di atas…………. (dan seterusnya…). Setelah beberapa saat kemudian, lalu angkat tangan salah satu mahasiswa lagi, tanda bahwasannya dia juga ingin menanyakan sesuatu, lalu dia bertanya, seraya dia berdiri, pak AKU tuh mau bertanya ke bapak, gini pak AKU masih bingung dengan penjelasan bapak dengan poin yang ini[3]…………….(dan seterusnya….), coba jelaskan lagi agar AKU bisa memahaminya.

Itulah segelintir kasus yang sering penulis jumpai dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, kalau kita menilainya sekejap dari kasus diatas tentu tidak ada suatu masalah yang perlu dibincangkan, tetapi kalau kita menelaah lebih teliti dari apa yang penulis sampaikan diatas, pastilah ada suatu perbedaan yang sangat tinggi nilainya, tutur katanya, cara penyampaian bahasanya.

Dalam bahasa keseharian dikampung[4] halaman saya bahwasannya perbedaan antara makna AKU (nahu[5]) dan SAYA (mada) itu sangan kental pemaknaannya, karna dari cara tutur sapa yang akan dilontarkan, itulah yang akan jadi penilaian tersendiri dalam hidup dan kehidupan dalam bermasyarakat di masyarat Bima.

Akhir kata, harapan penulis, semoga dari apa yang penulis gambarkan diatas bisa menyadarkan diri saya pribadi dan semua orang yang akan membaca ini. Terimakasih dan sampai jumpa di tulisan-tulisan saya selanjutnya.


[1] Adalah salah satu Mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, juga sebagai darah kelahiran Bima NTB, aktif diberbagai organisasi Intra dan Ekstra Kampus, diantaranya : Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (BEM-PS IH UIN SUKA)., Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Himpunan Mahasiwa Hukum Indonesia (PERMAHI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII Rayon Ashram Bangsa), Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), dan Forum Intelektual Mahasiswa Bima Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (FIMBi UIN SuKa).

[2] Dalam tulisan kali ini penulis tidak bermaksud menjelaskan apa yang ditanyakan dalam kasus ini, tetapi penulis lebih menitikberatkan dari cara seseorang mahasiswa yang mengajukan pertanyaan kepada dosenya.

[3] Ibid.

[4] Penulis adalah kelahiran Indonesia bagian timur, tepatnya di Kabupaten Bima, Propinsi Nusa Tenggara Barat, tentunya masih diwilayah Indonesia, hehe.

[5] Nahu (bahasa daerah Bima) dalam arti bahasa Indonesia-nya AKU, biasanya orang Bima memakai kata tersebut ketika berbicara dengan karib kerabatnya yang seumuran, atau pada saat berbicara dengan orang-orang yang dibawah umurnya, tetapi kebanyakan juga walaupun berbicara dengan karib kerabatnya yang seumuran atau pada saat berbicara dengan adik-adiknya tetap menggunakan kata SAYA (dalam bahasa Bima-nya mada), itu merupakan bahasa halusnya, agar adik-adik terdidik dari awal bahwasannya dalam tingkah laku dalam hidup dan kehidupan itu ada tata karma dan sopan santunnya.

Iklan