Judul Buku      : Tafsir Kebudayaan

Penulis             : Clifford Geertz

Penerbit           : Kansius

Tahun terbit      : 1992 (cetakan pertama)

Tebal               : 281

Buku Tafsir Kebudayaan ini adalah sebuah karya dari seorang penulis yang bernama Clifford Geertz, yang telah diterjemahkan sebelumnya dari buku The interpretation of cultures : Selected Essays

Dalam buku Tafsir Kebudayaan ini, Geertz menganjurkan supaya dalam menangkap makna dari kebudayaan, perlulah mengetahui cara menafsirkan simbol-simbol yang setiap saat dan tempat dipergunakan orang dalam kehidupan umum. Akan dibahas banyak hal mengenai kebudayaan. Dengan Bali yang diambil sebagai contohnya. Dalam buku ini digambarkan bahwa Bali adalah salah satu kota yang mempunyai beragam kebudayaan. Dengan banyaknya sesuatu yang khas dari  Bali itu sendiri seperti, agama yang ada di Bali, Pribadi, Waktu dan Tingkah-laku orang-orang Bali dan suatu kegiatan khusus (tardisi) atau permainan yang dari dulu hingga kini masih dimainkan oleh penduduk Bali itu sendiri.

Buku ini mengangkat banyak pendapat atau suatu gagasan, seperti definisi kebudayaan yang dikemukakkan oleh Clyde Kluckhon yaitu: 1 keseluruhan cara hidup suatu masyarakat ; 2 warisan sosial yang diperoleh individu dari kelompoknya ; 3 suatu cara berpikir, merasa dan percaya ; 4 suatu abstraksi dari tingkah laku ; 5 suatu teori pada pihak antropolog tentang cara suatu kelompok masyarakat nyatanya bertingkah laku ; 6 suatu gudang untuk mengumpulkan hasil belajar ; 7 seperangkat orientasi-orientasi standar pada masalah-masalah yang sedang berlangsung ; 8 tingkah-laku yang dipelajari ; 9 suatu mekanisme untuk penataan tingkah-laku yang bersifat normatif; 10 seperangkat teknik untuk menyesuaikan baik dengan lingkungan luar maupun dengan orang-orang lain ; 11 suatu endapan sejarah. “lukisan mendalam” istilah tersebut di kemukakan oleh Gilbert Ryle yang dipinjam untuk  menggambarkan suatu usaha yang dilakukan oleh etnograf dalam mengerjakan etnografi. Rlye juga mengemukakan bahwa “Le Penseur”(pemikir) sedang melakukan kegiatan “memikirkan dan merefelesikan” dan “Memikirkan Pikiran-pikiran”. Dengan mengambil contoh dua orang anak mengedipkan mata kanan mereka, yang bisa di interpresentasikan sebagai sebuah gerak reflek (kedutan) atau suatu kesengajaan untuk isyarat suatu persekongkolan. Dari banyak hal diatas, dapat ditarik sedikit kesimpulan bahwa kebudayaan bersifat publik meskipun bersifat ideasional, kebudayaan tidak berada dalam kepala seseorang. Walapun tidak bersifat fisik, kebudayaan bukanlah sebuah entititas yang tersembunyi. Karena tidak dibatasi perdebatan mengenai apakah kebudayaan bersifat “subjektif” atau “objektif”.

Suatu konsep kebudayaan pada konsep manusia, adanya hakikat manusia yang dominan dalam Zaman Pencerahan  dalam memunculkan sebuah konsep ilmiah tentang kebudayaan yang sama saja atau setidaknya saling berhubungan. Bila dilihat sebagai seperangkat peralatan simbolis untuk mengatur tingkah-laku, sumber-sumber ekstrasomatis dari informasi, kebudayaan memberikan mata rantai antara secara intrinsik mampu menjadi apakah manusia dan nyatanya menjadi apakah sebenarnya mereka satu persatu. Menjadi manusia dalah menjadi individu, dan kita menjadi individu dibawah pengarahaan pola-pola kebudayaan, sistem-sistem makna yang tercipta secara historis yang dengannya kita memberi bentuk, susunan, pokok, dan arah bagi kehidupan kita. Dan pola kebudayaan tidak bersifat umum melainkan khusus, tidak hanya dalam hal perkawinan, melainkan megenai seperangkat khusus pandangan-pandangan tentang seperti apakah laki-laki dan wanita itu, bagaimana pasangan tersebut akan saling memperlakukan satu sama lain, atau siapa layak mengawini siapa ; tidak hanya “agama” tetapi kepercayaan akan lingkar karma. Pengertian akan manusia itu sendiri, dalam konteks ini digambarkan “ Menjadi manusia adalah menjadi orang Jawa.“

Pertumbuhan kebudayaan dan evolusi pikiran, “Apakah itu pikiran?”  masalah evolusi pikiran adalah soal penelusuran perkembangan kemampuan-kemampuan, kecakapan-kecakapan, kecenderungan-kecenderunagan, dan kecondongan-kecondongan tertentu dalam organisme dan menggambarkan faktor-faktor atau tipe faktor  yang menyebabkan adanya ciri-ciri itu. Fakta yang jelas bahwa tahap-tahap akhir dari evolusi biologis manusia terjadi setelah tahap-tahap awal pertumbuhan kebudayaan yang menyiratkan bahwa hakikat manusia yang “dasariah”, “murni”, atau “tidak dikondisikan”. Pikiran manusia adalah sebuah tindakan yang dinyatakan dan diarahkan menurut bahan-bahan objektif dari kebuadayaan bersama, dan baru setelahnya, pikiran manusia adalah suatu soal privat.

Pikiran Primitif : catatan untuk claude levi-strauss.

Peralihan batiniah di Bali dewasa ini. Adakah modernisasi religious? Setelah akhir-akhir ini kita sering mendengar akan modernisasi politik dan ekonomi. Konsep tentang Rasionalisasi Agama, sosiolog Jerman Max Weber mengemukakan sebuah disting antara dua macam kutub ideal dari agama-agama dalam sejarah dunia, keduanya adalah kutub “tradisional” dan “dirasionalisasikan”.  Agama Bali Tradisional, orang Bali yang dalam arti luas adalah orang-orang Hindu. Disini dikatakan bahwa agama Bali tidak tersusun secara metodis namun, tidak sama dengan menyatakan bahwa agama itu tidak tersusun sama sekali. Agama itu tidak hanya diliputi dengan cara yang sangat distingtif yang konsisten, melainkan unsur-unsur yang menyusunnya berkumpul menjadi sejumlah kompleks-kompleks ritus yang dirumuskan dengan baik. Ada tiga hal penting, yaitu : (1) sistem pura; (2) pensakralan ketidaksamaan sosial; (3) pemujaan kematian dan dukun-dukun. Bagaimana tiga hal itu berjalan, akan dibahas secara lebih mendalam dalam buku tafsir kebudayaan ini.  Rasionalisasi Agama Bali, timbulnya banyak halangan untuk Bali merasionalisaskan agamnya “Bali-isme”. Agama Bali yang tidak mempunyai Kementrian Agama selayaknya Prostestan dan Katolik sebagai agama yang berbeda-beda, mempunyai seksi-seksi khusus untuk menjalankan birokrasi dalam Kementrian Agama tersebut, bahkan agama Bali cenderung dilemparkan kedalam katagori “liar”- yakni, kafir, penyembah berhala, primitif, yang para penganutnya tidak memiliki hak-hak sebenarnya dalam bantuan dari, Kementrian itu.

Pribadi, waktu, dan tingkah laku di Bali. Dalam pribadi,waktu dan tingkah laku di Bali ini mempunyai pembahasan tersendiri, akan Hakikat Sosial Pikiran; Studi Kebudayaan; Pendahulu, Orang-Sezaman, Orang-Setempat-Sezaman, dan penerus; Susunan-susunan Definisi-Pribadi dari Orang Bali; Sebuah Segetiga Kekuatan Kultural ; Kalender-kalender Taksonomi dan waktu yang cocok; Upacara, Demam Panggung; Tak Adanya Klimaks. Tak perlu semuanya diulas dalam resensi ini, namun akan diulas sedikit seperti mengenai, Hakikat Sosial Pikiran, pikiran manusia pada akhirnya bersifat sosial yakni, sosial dalam asal-usulnya, sosial dalam fungsinya, sosial dalam bentuk-bentuknya, sosial dalam pemakainya. Dan pada dasarnya berpikir adalah sebuah kegiatan publik. Studi Kebudayaan, lewat pola-pola kebudayaan, yaitu rangkaian simbol-simbol bermakna tertatur, manusia dapat memberi makna atas peristiwa-peristiwa yang dihayatinya. Dalam hal ini studi kebudayaan adalah kumpulan totalitas pola-pola itu, lalu merupakan studi tentang yang bersifat mesin yang berusaha mengorientasikan diri di dalam sebuah dunia yang bagaimanapun suram. Lalu dalam Susunan-susunan Definisi-Pribadi dari Orang Bali, terdapat beberapa penjabaran, mengenai Nama-nama Pribadi, Nama-nama Urut Kelahiran, Sebutan-sebutan Kekerabatan, Teknonim-teknonim, Gelar-gelar Status, Gelar-gelar Publik.

Permainan Mendalam: Catatan Tentang Sabung-Ayam Di Bali. Penggrebekan, dalam pengrebekan ini diceritakan bahwa ketika Geertz dan istrinya pada bulan April 1958 datang di sebuah desa Bali untuk melakukan studi. Ketika dalam proses studi tersebut pasangan suami istri ini megetahui bahwa di Bali sangat popular dengan sabung ayam, dan dengan segala resikonya yaitu penggrebekan. Tentang Jago dan Manusia, antara Jago dengan manusia di Bali sangatlah saling berkaitan, seperti yang di kemukakan oleh Basteson dan Mead bahwa, segaris dengan konsep orang Bali tentang tubuh sebagai seperangkat bagian-bagian berjiwa yang terpisah-pisah, jago dipandang sebagai zakar yang dapat ditinggalkan, yang dapat bergerak-sendiri, sebagai alat kelamin yang berjalan-jalan yang hidup. Dan adanya fakta bahwa jago adalah simbol jantan par excellence agaknya tidak begitu meragukan. Pertarungan, disini diceritakan tetang proses-proses sebelum, ketika berlangsung dan sesudah pertarunagn antara jago satu dengan jago lainnya, sampai pada titik dimana ada yang kalah dan ada yang menang dengan segala konsekuensinya. Taruhan dan Uang Tunai, dijelaskan semakin tinggi taruhan pusat semakin tepat pula pernyataan bahwa sabung-ayam itu seimbang-dua hal yang kurang lebih berlangsung menyertainya : (1) semakin tinggi pertaruhan pusat, semakin besar pasangan petaruhan pinggiran menuju akhir pertaruhan yang singkat dari spectrum pertaruhan itu, dan sebaliknya; (2) semakin tinggi pertaruhan pusat, semakin besar volume pertaruhan pinggiran, dan berlaku sebalinya. Yang belum dibahas dalam bab ini adalah: Bermain dengan api; Bulu, Darah, Kerumunan, dan Uang; Mengatakan sSesuatu dari Sesuatu.

Diatas secara singkat sudah diulas mengenai buku Tafsir kebudayaan meski tidak secara gamblang, namun ulasan diatas sangatlah menarik minat anda untuk mengetahui lebih jauh mengenai keseluruhan isi buku ini. Buku ini menjelaskan hal demi hal dengan kata-kata atau susunan kalimat yang sedikit sulit untuk dipahami dengan hanya sekilas saja membaca, buku ini juga kurang sedikit menarik denagn tidak diserti gambar-gambar. Tetapi buku ini sangatlah informatif, dan di ungkap secara lebih lengkap dan logis.