Salah satu istilah yang mungkin sering kita jumpai pada dunia kampus adalah mahasiswa kupu-kupu. Istilah ini acapkali digunakan untuk memberi kesan negatif.

Benarkah?

Di bawah ini saya mencoba menjelaskan apa yang dimaksud dengan mahasiswa kupu-kupu, dan mencoba menjawab benar tidaknya istilah ini memberi kesan negatif.

Dari berbagai sumber, ntah terpercaya atau tidak, ada dua cara yang bisa menjelaskan tentang mahasiswa kupu-kupu ini.

Cara yang pertama, memanjangkan istilah itu. Mahasiswa kupu-kupu bila dipanjangkan adalah mahasiswa (ku)liah-(pu)lang (ku)liah-(pu)lang.

Tentu bila saya memperoleh penjelasan demikian, dan mengatakan ini memberi kesan negatif, maka akan mencuat banyak pertanyaan, di antaranya adalah: sebenarnya apa sih yang seharusnya dilakukan mahasiswa sehingga kuliah-pulang kuliah-pulang berkesan negatif? apa harus terselip kuliah-bermain di kampus-pulang? atau kuliah-nongkrong di kampus-pulang? bukannya untuk bermain dan nongkrong bukan kampus tempatnya? atau lagi, kuliah-mengikuti unit kegiatan mahasiswa-pulang? setau saya unit kegiatan mahasiswa adalah sarana belajar bersosialisasi atau berorganisasi, tapi belajar itu tidak harus di kampus juga kan?

Cara yang kedua, membandingkan istilah itu. Sudah barang tentu membandingkan mahasiswa kupu-kupu dengan kupu-kupu sebenarnya, apakah memiliki kecocokan. Tentu menempelkan kupu-kupu pada kata mahasiswa tidak bermaksud sembarangan, maksudnya dipergunakan bila memiliki kecocokan dengan kupu-kupu sebenarnya. Lantas apa kecocokannya? Kupu-kupu setelah menghisap madu bunga langsung pergi, mungkin penjelasan ini sama dengan kuliah-pulang yang di atas. Rasanya hal tersebut tidak cukup, masa penggunaan kupu-kupu karena hanya satu kecocokan. Apa kecocokan lain?

Selain dikenal sebagai hewan indah, kupu-kupu juga hewan yang membantu dan bermanfaat (karena penyerbuk). Nah apakah mahasiswa kupu-kupu ini mahasiswa yang indah, yang membantu dan bermanfaat sebagaimana kupu-kupu sebenarnya? Mari kita membandingkannya lagi dengan istilah lain untuk menemukan jawaban yang akurat.

Istilah lain yang menggunakan kata kupu-kupu, dan sudah pasti tidak asing lagi adalah kupu-kupu malam.

Seperti kita tau, istilah ini artinya pekerja seks komersial. Bila kita membandingkan istilah ini dengan kupu-kupu sebenarnya, apakah memiliki kecocokan juga? Sesuai di atas, kupu-kupu setelah menghisap madu bunga langsung pergi, kupu-kupu indah, kupu-kupu juga membantu dan bermanfaat. Bagaimana dengan pekerja seks komersial tersebut, apakah demikian? tentu iya! pekerja seks komersial setelah “melakukannya” langsung pergi, sebagaimana mestinya sebuah kesepakatan. Pekerja seks komersial terlihat indah di mata pelanggannya. Dan bagi pelanggan, kehadiran pekerja seks komersial tentu membantu dan bermanfaat. Jadi, istilah kupu-kupu malam yakni pekerja seks komersial memiliki kecocokan dengan kupu-kupu sebenarnya.

Nah setelah mencocokkan, kupu-kupu sebenarnya dengan kupu-kupu malam, dan balik ke pertanyaan yang belum terjawab tadi. Apabila melalui cara kedua, apakah mahasiswa kupu-kupu ini mahasiswa yang indah, yang membantu dan bermanfaat? bila penggunaan istilah kupu-kupu memang harus memiliki kecocokan sebagaimana kupu-kupu sebenarnya, tentu sudah seharusnya mahasiswa kupu-kupu ini adalah mahasiswa yang indah, yang membantu dan bermanfaat sebagaimana telah diperbandingkan di atas!

Jadi menurut penjelasan kedua cara di atas, benarkah mahasiswa kupu-kupu yang indah, membantu, dan bermanfaat ini memberi label negatif? tentu tidak! dan tak ada lagi yang perlu ditakutkan bila dilabeli mahasiswa kupu-kupu. Hidup mahasiswa kupu-kupu! haha..

SUMBER :

Patrick Kluivert, DALAM TOPIK DISKUSI GROUP APATIS KAMPUS