BY M. JAMIL 1

IDENTITAS BUKU

  • Judul buku : Budidaya Melinjo dan Usaha Produksi Emping
  • Pengarang : Ir. Hatta Sunarto
  • Penerbit : Kanisius
  • Kota Terbit : Yogyakarta
  • Tahun Terbit : 1991
  • Cetakan ke : I (Pertama)
  • Jumlah Halaman : 66

Berdasarkan sejarahnya, melinjo berasal dari Semenanjung Ma­laysia. Distribusinya sekarang ini membentang dari daerah Assam sampai Kepulauan Fiji (Markgraf, 1954). Namun ada orang yang ku­rang setuju dengan pendapat tersebut; mereka beranggapan bahwa melinjo berasal dari Indonesia. Tanaman ini oleh pendatang dibawa dari Amboina ke Penang pada tahun 1809, kemudian dibawa masuk lagi ke Indonesia (Hunter, 1909).

Di Indonesia, melinjo merupakan tanaman yang tumbuh tersebar di mana-mana, banyak ditemukan di tanah-tanah pekarangan rumah penduduk pedesaan dan halaman-halaman rumah penduduk di kota.

Nama tanaman ini di berbagai daerah di Indonesia ternyata ber­macam-macam, yakni belinjo melinjo, maninjau, bagor, so, trangkil, dan tangkil sako, menunjukkan penyebarannya yang cukup luas.

Hampir seluruh bagian tanaman melinjo, mulai dari daun, bunga, buah sampai batangnya dapat dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga maupun industri.

Buah yang sudah tua merupakan bahan baku emping melinjo,
kulit batangnya dapat dijadikan tali untuk jala atau tali panjat, kayunya untuk bahan pembuatan kertas, sedangkan daun, bunga dan buahnya yang masih muda bisa digunakan sebagai bahan sayur.

MENGENAL MELINJO

  1. Seluk-Beluk Tanaman

Melinjo (Gnetum gnemon. L.) termasuk tumbuhan berbiji terbuka (Gvmnospermae), dengan tanda-tanda: bijinya tidak terbungkus daging tetapi hanya terbungkus kulit luar.

Menurut Becker dan Van De Brink (1963), di Jawa hanya hanya terdapat satu jenis melinjo, Gnetum gnemon. L. vardo mesticum. Namun berdasarkan pengamatan di lapangan, melihat adanya variasi bentuk tajuk pohon dan variasi bentuk dan ukuran buah atau bijinya, di Jawa terdapat beberapa farietas melinjo.

Tanaman melinjo dapat hidup sampai mencapai umur di atas 100 tahun dan masih tetap menghasilkan buah (bagi tanaman yang me­menuhi syarat bisa berbuah) . Di desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat sebuah pohon melinjo berumur lebih dari 100 tahun, yang setiap pa­nen raya melinjo mampu menghasilkan buah melinjo sebanyak 80 kg – 100 kg. Dengan kondisi tersebut pohon melinjo ini dinyatakan unggul dan meraih Juara Kedua untuk seluruh tanaman melinjo di Jawa olehTim Penilai dari Departemen Pertanian pada tahun 1987. Sedangkan juara pertama di raih tanaman melinjo dari Jawa Barat.

Berdasarkan bentuk tajuk pohonnya dikenal ada 2 jenis tanaman melinjo, yakni yang bertajuk kerucut dan bertajuk piramida.

  1. Syarat Tumbuh

T anaman melinjo tidak membutuhkan kondisi tanah yang khusus, sehingga dapat tumbuh pada tanah-tanah liat/lempung, berpasir, dan berkapur. Walaupun demikian tanaman melinjo tidak tahan terhadap tanah yang selalu tergenang air atau yang berkadar asam tinggi (PH tanah terlalu asam).

  1. Jenis Kelamin

Kebanyakan buku pustaka menyatakan bahwa melinjo termasuk golongan tanaman yang berumah dua (dioecy), artinya bunga jantan dan bunga betina didapatkan pada pohon yang berlainan (Statsburger, 1879; Heyne, 1917; Burkill, 1925; Grevost, 1953; Margraf. 1951; dan Ochre, 1977). Namun hasil pengamatan Van Der Pijl (1959) di Jawa Barat dan di Jawa Tengah menunjukkan bahwa ada pohon melinjo yang berkelamin hermaphrodite, yakni pada satu pohon melinjo di­dapatkan bunga jantan dan bunga betina (monoecy), tetapi jenis ini jumlahnya tidak banyak.

Sementara, ada pendapat yang mengatakan bahwa pohon jantan dapat dibedakan dari pohon betina dengan memperhatikan bentuk daunnya. Dikatakan bahwa daun dari pohon betina pangkalnya bundar, atau lebih lebar daripada daun pohon melinjo yang jantan.

Buah melinjo yang masih muda kulit luarnya berwarna hijau, kemudian semakin tua warna kulitnya semakin kuning dan berubah menjadi orange, dan setelah tua sekali kulitnya berwarna merah tua dan lunak.

Biji melinjo terbungkus oleh 3 lapisan kulit. Lapisan pertama adalah kulit luar yang lunak, lapisan kedua adalah kulit agak keras yang berwarna kuning (bila biji masih muda) dan berwarna coklat kehitam-hitaman (bila biji sudah tua), dan lapisan ketiga berupa kulit tipis berwarna putih kotor.

  1. Varietas

Di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta, dikenal adanya 3 varietas melinjo yaitu:

  1. Varietas Kerikil

Buah atau biji melinjo varietal ini ukurannya kecil, bentuknya agak bulat.

  1. Varietas Ketan

Buah atau biji melinjo varietas ini jauh lebih besar daripada varietas Kerikil, bentuknya panjang jumlah buah tiap pohon bisa lebat.

  1. Varietas Gentong.

Buah atau biji melinjo varietas ini ukurannya paling besar, dengan bentuk agak bulat.

  1. Kegunaan

Melinjo banyak faedahnya, hampir seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan. Daun muda (disebut dengan daun so), bunga (di­sebut dengan kroto), kulit biji yang tua, dapat digunakan sebagai ba­han sayuran yang cukup populer di kalangan masyarakat. Semua bahan makanan yang berasal dari tanaman melinjo mem­punyai kandungan gizi cukup tinggi, selain karbohidrat juga mengandung lemak, protein, mineral, dan vitamin-vitamin. Kulit batangnya mengandung banyak serat dan dapat dipintal menjadi benang yang kuat, dapat dipakai untuk tali pancing , jala dan lis kuda pedati. Biji melinjo yang telah tua merupakan bahan baku pembuatan emping yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.

MENANAM MELINJO

  1. Pembibitan

Tanaman melinjo dapat diperbanyak dengan cara generatif (dengan biji) dan dengan cara vegetatif (cangkokan, okulasi, pe­nyambungan, stek). Masing-masing cara tersebut tentunya me­ngandung kebaikan dan kelemahan yang secara lengkap akan diurai­kan berikut ini.

  1. Secara Generatif

Dengan cara generatif, yakni melalui perkecambahan biji, akan diperoleh bibit tanaman melinjo dalam jumlah besar sehingga dapat menunjang pengembangan tanaman melinjo secara besar-besaran.

Kebaikan dari cara generatif ini adalah:

  1. Pertumbuhan tanaman dapat kuat, karena sistem perakarannya dalam (berakar tunggang) sehingga lebih tahan terhadap keke­ringan.

  2. Masa hidup atau umur tanaman lebih panjang dibandingkan dengan tanaman yang berasal dari pengembangan vegetatif.

Kelemahan dari cara generatif itu sendiri adalah:

  1. Tanaman yang diperoleh sering berubah atau tidak sama dengan sifat-sifat tanaman induknya.

  2. Untuk dapat berproduksi membutuhkan waktu yang lama, yakni setelah tanaman berumur 5-7 tahun.

  3. Jenis kelamin tanaman tidak bisa diketahui sebelum tanaman itu berbunga, sehingga mengurangi efekti pengembangan secara besar-besaran dalam kaitannya dengan jumlah hasil pro­duksi biji melinjo yang diharapkan sebanyak-banyaknya.

Tahap-tahap dalam melakukan pembuatan bibit tanaman me­linjo secara generatif adalah sebagai berikut:

  1. Pengumpulan dan Pemilihan Biji

Mengumpulkan biji melinjo secukupnya menurut kebutuhan, kemudian dipilih yang kualitasnya baik yaitu:

  1. Bila masih ada kulit luarnya, dipilih yang warnanya merah tua. Bila sudah tidak ada kulit luarnya, dipilih biji yang warna kulit luarnya hitam kecoklat-coklatan dan mengkilat.

  2. Ukuran bijinya bestir dan tidak cacat serta sehat (tidak terserang hama dan penyakit).

  1. Pembuatan Petak Tanah Pesemaian

Dipilih tanah dengan ukuran 2 m x 6 m yang tidak tergenang air, gembur, dan cukup terkena sinar matahari. Tanah ini diolah atau dicangkuli sedalam 10-15 cm, kemudian ditaburi sedikit abu dapur/kapur, atau obat pembasmi hama misalnya dengan menyiramkan larutan Formalin 4% sebanyak 10 liter larutan permeter persegi tanah pesemaian; kemudian ditutup selama 24 jam dengan plastik atau daun pisang. Hal ini dilakukan untuk mensterilkan tanah pesemaian.

  1. Penanaman pada Pesemaian

Letakkan biji melinjo yang sudah tidak ada kulit luarnya ke dalam tanah pesemaian, dengan posisi yang agak runcing dibenamkan (ditaruh bagian bawah) sedalam 2-3 cm. Jarak antar biji yang disemai 10-15 cm. Lantas biji melinjo yang sudah tertanam dalam pesemaian itu ditutup dengan tanah gembur yang dicampuri kompos dengan ketebalan 3-4 cm, selanjutnya ditutup dengan daun pisang, yang sudah tua tetapi belum kering dan daun kelapa yang belum kering pula. Lakukan penyiraman setiap hari dengan air secukupnya (tidak meng­genang), dan setelah 9 bulan. biji-biji melinjo sudah mulai berkecam­bah.

  1. Secara Vegetatif

Pengembangan tanaman melinjo juga dapat dilakukan dengan cara vegetatif, yaitu melalui cangkokan, okulasi, sambungan, dan stek. Cara-cara ini pun memiliki kebaikan dan kelemahannya. Namun secara

  • mendapatkan sifat tanaman yang sama dengan induknya

  • mendapatkan sifat tanaman yang pendek

  1. Penanaman

Lahan yang akan ditanami melinjo harus terbuka atau terkena sinar matahari dan disiapkan sebaik-baiknya. Seperti halnya tanaman lainnya, 3-4 minggu sebelum tanam perlu disiapkan lubang-lubang tanam dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 75 cm (panjang, lebar, dalam) dengan jarak antartanaman adalah 6-8 m.

Bibit-bibit tanaman melinjo yang dalam keranjang atau pot disiapkan dengan membuang keranjangnya atau potnya se­cara hati-hati agar perakarannya tidak rusak. Kemudian bibit ditanam pada lubang-lubang tanam dengan kedalaman dari pangkal batang sampai permukaan tanah sekitar 10-15 cm; sedangkan untuk bibit cangkokan penanamannya dari pangkal batang sampai permukaan tanah sedalam 50-60 cm agar nantinya tanaman tidak mudah roboh (tumbang).

MEMELIHARA TANAMAN MELINJO

Pemeliharaan tanaman melinjo terdiri dari: pemupukan, penyi­raman, penyiangan, pemberantasan hama dan penyakit, dan pemang­kasan.

  1. PEMUPUKAN

Pemberian pupuk kandang pada tanaman berumur muda sebaik­nya dua kali dalam setahun; caranya dengan menggali tanah melingkari batang tanaman sedalam 30 cm sedikit di luar lingkaran tajuk daun dan pupuk dimasukkan dalam galian secara merata, kemudian ditimbuni tanah lagi. Pemberian pupuk kandang akan menambah ke­suburan tanah dan memperbaiki kondisi fisik tanah.

  1. PENYIRAMAN

Tanaman melinjo pada umur muda perlu sekali dilakukan pe­nyiraman, terutama pada musim kemarau, agar pertumbuhan tanaman tidak mengalami stagnasi. Penyiraman dengan banyak air setelah diberi pupuk kimia perlu sekali dilakukan, agar pupuk segera diserap akan tanaman.

  1. PENYIANGAN

Perlu juga dilakukan penyiangan agar gulma yang mengganggu hilang, terutama pada tanaman berumur muda. Dengan penyiangan sekaligus dilakukan pendangiran, sehingga udara bisa masuk kedalam tanah.

  1. PEMANGKASAN

Sebaiknya pemangkasan dilakukan pada awal atau waktu musim hujan, karena untuk pembentukan tunas-tunas baru diperlukan banyak air dan harus pula diikuti dengan pemupukan anorganik. Pemangkasan dilakukan terhadap cabang-cabang yang lemah, rusak, sakit, dan yang terlalu berdesakan, sehingga peredaran udara cukup dan men­dapat cukup sinar matahari.

HAMA DAN PENYAKIT

HAMA

  1. Hama-hama yang Meyerang Daun Melinjo

  1. Kutu-kutu Rastrococcus sp. dan planococcus sp.

  2. Kutu-kutu Lepidosaphes sp. dan Pseudolacaspis sp.

  3. Penggerak daun

  4. Tungau merah dan tetranichida

  5. Moluska

  1. Hama-hama yang Menyerang Batang Melinjo

  1. Kumbang penggerak batang

  2. Wereng pohon gargara sp.

  1. Hama-hama yang Menyerang Buah/Biji Melinjo

  1. Larva Dacus sp.

  2. Ulat penggerak kulit buah

  3. Buah-buahan melinjo tua biasanya diserang oleh kumbang penggerak buah dari famili Scolytidae.

PENYAKIT

Beberapa penyakit yang menyerang pohon melinjo adalah sebagai berikut:

  1. Penyakit Layu Pembuluh Bakterri

  2. Penyakit Hawar Daun Bakteri

  3. Penyakit Hawar Daun Cendana

  4. Penyakit Antraknosa

  5. Penyakit Bercak Daun Cephaleuros

  6. Penyakit Noda Liken

  7. Penyakit Embun Hitam

  8. Penyakit Bercak Buah Bakteri

  9. Penyakit Pecah Buah Muda

MEMETIK DAN MEMASARKAN MELINJO

  1. PEMETIKAN HASIL

Pemetikan hasil dilakukan berdasarkan tujuan penggunaannya. Bila tujuannya untuk dimanfaatkan sebagai sayuran, maka pemetikan daun muda atau bunga muda dapat dilakukan sewaktu-waktu. Tetapi bila akan dimanfaatkan untuk menyediakan bahan baku emping melinjo maka pemetikannya dilakukan bila buah sudah tua.

Pada umumnya pemetikan hasil berupa biji melinjo itu berdasar­kan kuantitasnya (jumlah produksinya) ada yang disebut dengan Panen Raya dan Panen Kecilan.

Masih banyak petani atau penebas (tengkulak) yang melakukan pemetik­an biji melinjo dengan cara memanjat pohon melinjo, padahal percabangan po­hon melinjo tidak kuat atau mudah lepas dari per­sendiannya, sehingga ke­mungkinan terjadinya ke­celakaan jatuh dari pohon melinjo bagi para pemanjat itu memang besar.

Namun di desa-desa yang banyak mengha­silkan melinjo, cara pemetikan biji melinjo itu menggunakan tangga dari bambu yang panjang se­perti pada pemetikan bu­nga cengkeh. Penggunaan tangga bambu tersebut ada yang diperlengkapi de­ngan tali/tampar plastik dan ada yang tanpa diperlengkapi tampar plas­tik. Tampar plastik itu berfungsi sebagai pengaman agar orang yang memetik biji melinjo tidak jatuh roboh bersama tangga bambu.

  1. PEMASARAN

Dalam memasarkan produksi biji melinjo, sebagian besar petani melinjo masih berhubungan dengan tengkulak, walaupun konsekuen­sinya adalah menerima harga yang relatif rendah. Hal ini terjadi ka­rena sistem tersebut dianggap lebih praktis dan mudah, petani cukup tinggal di rumah saja dan tengkulak lotting di rumah petani melinjo untuk melakukan pembelian biji melinjo hasil produksi petani. Lebih­-lebih banyak pula petani melinjo yang meminjam uang dahulu dari tengkulak, dan untuk membayar hutangnya petani menyerahkan ha­sil produksi biji melinjo; tentu saja dalam perhitungannya tengkulak perhitungannya mementingkan keuntungan pribadinya.

Untuk meningkatkan pendapatan petani dan produsen emping (yang pads umumnya keadaan ekonorninya lemah) rantai pemasaran tersebut harus diperpendek. Hafini bisa ditempuh dengan meman­faatkan adanya KUD (Koperasi Onit Desa). KUD membeli dan me­nampung biji melinjo hasil produksi petani dengan harga yang layak, kemudian KUD menjual kepada para produsen emping dengan harga yang layak pula (para produsen emping itu sendiri diharapkan juga anggota KUD).

MEMPRODUKSI EMPING MELINJO

  1. MENGENAL EMPING MELINJO

Emping melinjo adalah jenis makanan ringan yang bentuknya pipih bulat dibuat dari biji melinjo yang sudah tua. Hampir semua orang menggemari emping melinjo yang memiliki rasa dan aroma yang khan ini. Harga emping melinjo di pasaran cukup stabil, artinya belum pernah mengalami kemerosotan harga; lebih-lebih sekarang Indonesia mulai mengekspor emping melinjo ke beberapa negara.

Klasifikasi emping melinjo adalah sebagai berikut:

  1. Kualitas Nomor 1

Sering disebut dengan “emping super”, yang tanda-tandanya adalah:

  1. Lempengannya sangat tipis merata.

  2. Berwarna agak putih dan bening atau transparant.

  3. Tiap lempengannya berasal dari satu biji melinjo yang ukuran dan kualitasnya sama, sehingga garis tengahnya hampir seragam.

  1. Kualitas Nomor 2

Emping dengan kualitas ini memiliki tanda-tanda, antara lain:

  1. Lempengannya lebih tebal daripada emping super

  2. Berwama agak putih kekuning-kuningan dan kurang bening (kurang transparant)

  3. Tiap lempengan berasal dari satu biji melinjo yang Ukuran dan kualitasnya lama, sehingga garis tengahnya hampir seragam.

  1. Kualitas Nomor 3

Emping kualitas ini memiliki tanda-tanda:

  1. Lempengannya agak tebal

  2. Berwarna kekuning-kuningan dan tidak bening (tidak transparant)

  3. Tiap lempengan berasal dari satu biji melinjo yang ukuran dan kualitasnya bermacam-macam, sehingga garis tengahnya juga bermacam-macam.

  1. MEMBUAT EMPING MELINJO

Untuk membuat emping diperlukan peralatan sebagai berikut:

  1. Tungku api atau kompor minyak

  2. Wajan dari tanah (layah, kuali) atau dari alumunium

  3. Batu berpermukaan lebar dan rata atau balok kayu untuk telenan atau alas pemukulan

  4. Alat pemukul dari besi atau batu gandik yang permukaannya licin atau dibungkus plastik agar licin.

  5. Irus atau sendok dari tempurung kelapa untuk membalik-balikkan biji melinjo yang digoreng sangan.

  6. Anjang dari anyaman bambu untuk mengangin-anginkan atau menjemur lempengan emping melinjo.

  7. Pasir sedikit untuk membantu proses penggorengan sangan.

  8. Lembaran seng yang tipis dan berukuran kecil untuk mengambil lempengan emping yang melekat pada batu atau kayu telenan.

Sebenarnya ada dua cara yang dikenal dalam proses pembuatan emping melinjo, yakni biji-biji melinjo sebelum dipipihkan itu dipanas­kan dahulu dengan cara: (1) digoreng sangan, yaitu digoreng pada wajan alumunium atau wajan dari tanah (layah, kuali) tanpa diberi minyak goreng; (2) direbus.

  1. MEMERIKSA KUALITAS MELINJO DAN EMPINGNYA

Kualitas melinjo sangat menentukan kualitas empingnya. Biji melinjo yang kualitasnya paling baik adalah biji melinjo yang ukur­annya terbesar dan sudah tua benar. Untuk mengetahui apakah biji melinjo itu sudah tua benar adalah:

  1. Bila masih berkulit luar maka warna kulit luarnya merah tua; sangat baik bila biji melinjo yang berkulit luar merah tua itu jatuh sendiri dari pohon.

  2. Bila sudah tidak berkulit luar, maka biji melinjo itu kulit kerasnya berwarna coklat kehitam-hitaman dan mengkilat. Hal ini penting karena pada umumnya produsen emping mendapatkan biji-biji melinjo dari pedagang dalam keadaan sudah tidak ada kulit luar­nya.

Biji melinjo yang sudah benar-benar tua itu kadar airnya kecil, sehingga bila menjadi emping tidak mengalami penyusutan berat sehingga bila menjadi emping tidak mengalami penyusutan berat yang terlalu besar.

  1. MEMASARKAN EMPING MELINJO

Selama ini tidak ada hambatan dalam kaitan dengan pemasaran emping melinjo, sebab para pedagang secara rutin mendatangi rumah produsen emping melinjo untuk mengambil emping. Sering kali pe­dagang sudah meminjami uang terlebih dahulu kepada produsen, dan dibayar dengan emping yang dihasilkan.

Harga emping melinjo di pasaran dapat dikatakan stabil; namun pada waktu-waktu tertentu, sekitar Hari Raya Lebaran (Idul Fitri) misalnya, harga emping melinjo melonjak.

_________________

1 Salah satu Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Angkatan Pertama (2009/2010)