MENJADI REMAJA BERAKHLAK TERPUJI

Edisi Pertama By KIMJA/FIMNY

SETIAP orang tua sudah pasti mendamba-kan anak yang memiliki akhlak terpuji. Bahkan saat masih dalam kandungan, hati dan bibir orang tua selalu gemetar dengan doa agar sang jabang bayi lahir dengan selamat dan kelak mewarisi akhlak yang mulia. Di waktu tangisan pertama saat melahirkan, tak henti-hentinya orang tua terus berdoa sambil mengucap rasa syukur di hati.

Lalu ringis-teriris hati orang tua, terutama ibu, ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa anaknya tumbuh dan besar dengan hingar-bingar pergaulan remaja masa kini yang menghambakan diri pada alkohol, minuman keras, sabu-sabu, ganja, heroin dan barang haram lainnya. Ditambah lagi judi, suka mengambil yang bukan haknya (maling/rampok), berpanas darah dengan saling menghujat, baku hantam, tusuk menusuk. Lengkap sudah penderitaan orang tua. Sungguh, itu semua di luar kehendak dan jauh dari doanya selama ini.
Namun, sungguh mulia hati orang tua yang meski nyata-nyata menyaksikan anaknya terjerumus, tetap selalu berdoa dan menyayanginya. Lalu, bagaimana mungkin seorang anak berani membentak orang tuanya meski dengan kata “ah”, apalagi sampai menghujat, memaki, mencibir, menampar atau bahkan sampai memukulnya hingga kepala di kaki, kaki di kepala (babak belur). Ada memang anak seperti itu, tapi apakah pantas ia menyandang gelar “anak” dari kemuliaan hati seorang ibu, dari rasa pengayom seorang bapak. Sungguh, ia tidak pantas menyandang gelar anak, karena seorang anak tidak pernah tega melakukan hal sekejam itu.
Memang, kenyataan “menyimpang” seorang anak semacam ini sepenuhnya bukan kesalahan dari pihak anak itu sendiri. Banyak faktor yang turut mempengaruhi. Bisa dari lingkungan keluarga, pergaulan teman sebaya, masyarakat maupun keangkuhan dari anak itu sendiri. Ketiga pengaruh pertama sebagai faktor eksternal (datang dari luar), dan yang terakhir sebagai faktor internal (datang dari dalam diri anak). Tentu saja, kedua faktor ini dapat dihindari dan diobati dengan menanamkan nilai-nilai moral dan agama semenjak bayi, menciptakan situasi dan kondisi yang mendukung perkembangan mental, fisik dan kerohaniannya, sampai kepada pengawasan dan pengendalian pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar dan proporsional (sesuai dengan kemampuan anak) selama masa pertumbuhan, masa akil baliq, sampai melewati masa remaja. Ini semua adalah proses mendidik dan mengajar, memberi pemahaman dan penjelasan-penjelasan yang rasional (masuk akal) tentang segala hal dengan dukungan akidah yang kuat.
Yang perlu diperhatikan orang tua, bahwa mendidik adalah proses yang ilmiah (masuk akal dan sesuai dengan pengalaman/belajar dari pengalaman). Sifatnya mendidik adalah memberi penjelasan yang sesuai dengan kenyataan dan jalan pikiran anak. Karena itu, mendidik bukan memarahi, mencaci maki, bukan pula sumpah serapah (mendoakan yang bukan-bukan), apalagi memukul dan menghantam. Sebagian besar dari kita, mendidik dengan cara yang terakhir inilah yang sering diterapkan.
Untuk itu, marilah kita sama-sama sadar, baik yang berperan sebagai anak maupun sebagai orang tua bahwa kebiasaan-kebiasaan buruk seperti itu justru menjadi sumber malapetaka selama ini. Mari kita mulai merubah peran kita. Mari kita mengasah dan merubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak membawa safaat, merugikan diri, keluarga, masyarakat, dunia dan akhirat. Bagi yang baru berfikir untuk berubah mari segera merubahnya. Bagi yang sudah, mari terus meningkatkannya dengan terus mencari pengalaman dan ilmu agar terus berkembang. Kalau bukan sekarang, siapa yang menjamin esok kita masih melihat matahari terbit. Insya Allah, anak-anak kita akan tumbuh menjadi remaja berakhlak terpuji.**

dapat juga di lihat di http://jamilncera.blogspot.com