oleh Jamil booo…!!!!
Sepuluh sifat itu antara lain:
1. Mengeluh

Mengeluh itu seperti membuang sampah kekhawatiran, sampah kesusahan, dsb. Hanya orang yang berhati mulia dan para psikolog yang dibayar yang selalu siap menampung keluhan orang lain. Umumnuya orang tidak suka dijadikan keranjang sampah, cobalah untuk berhenti mengeluh / terlalu banyak mengeluh. Kalau tidak tahan untuk memuntahkan unek-unek segera temuilah orang yang tepat; bisa saja orang itu adalah orang yang membuat kita kesal, bisa juga orang yang akan menunjukkan jalan keluar bagi kita.

2. Tidak tahu diri

Diberi hati minta jantung, mungkin ungkapan ini yang sangat tepat untuk menggambarkan orang yang tidak tahu diri. Kalau dibantu sekali oleh orang lain maka akhirnya jadi keterusan bergantung pada bantuannya, hal ini bisa membuat kesal. Meminjam ataupun mengambil sesuatu dari tempat yang telah tersusun rapi dan dikembalikan dalam keadaan sobek / acak-acakan tanpa disertai kata maaf atau niat mengganti, bisa membuat orang kecewa. Belajarlah untuk tenggang rasa, caranya; sering-seringlah bertanya kepada diri sendiri :”Seandainya saya jadi dia, bagaimana ya perasaan saya ?”.

3. Omong besar saja

Orang yang suka omong besar biasanya mempunyai cerita atau ide yang kedengarannya Wah, suka ngobral janji yang muluk-muluk, suka menceritakan pengalaman pribadinya yang spektakuler, suka membanggakan kehebatan-kehebatan yang dimilikinya, dan lain sebagainya. Mungkin untuk sementara bisa saja orang lain terbius dan percaya serta menganggap itu semua sebagai kebenaran. Namun lama-kelamaan orang lain bisa menilai bahwasanya kalau omong besar yang disertai fakta mungkin orang terkagum-kagum; tapi… kalau hanya tong kosong nyaring bunyinya, naah lho……… kuping siapa yang nggak nyesel mendengarnya ?.

4. Menjelekkan orang lain

Menjelekkan orang lain memang terkadang bisa membuat obrolan menjadi seru dan heboh, apalagi kalau lawan bicara punya hobi ngerumpi atawa ngegosip. Tapi… menyukai gosip bukan berarti menyukai si biang gosipnya. Lagipula tidak semua orang senang mendengar cerita-cerita miring mengenai orang lain. Bahkan orang bisa berpikir : ”Sekarang kamu menjelekkan dia. Mungkin nanti tiba giliran saya yang menjadi obyek gosipmu bigos !” .

5. Egois

Orang EGOIS selalu berpusat kepada dirinya sendiri; lebih suka memikirkan atau membicarakan topik mengenai dirinya, kegiatannya, hobinya, masalahnya, dan segala hal yang menyangkut kepribadianya. Orang seperti ini kurang tertarik untuk mendengarkan, memperhatikan atau membantu orang lain. Akibatnya, orang lain segan menjalin hubungan dengannya. Berusahalah mengalihkan perhatian tidak hanya kepada diri sendiri akan tetapi juga kepada orang lain. Bagaimanapun juga untuk menjadi seorang pribadi yang utuh kita memerlukan orang lain.

6. Pelit

Hemat pangkal kaya, namun pelit bisa bisa jadi pangkal dijauhi orang. Perbedaan antara hemat dan pelit ini sangat tipis sekali; orang pelit biasanya lebih suka dibagi ketimbang berbagi atau membagi. Orang pelit lebih tega mengambil rokok temannya yang tertinggal 3 batang sementara disakunya sendiri masih ada sebungkus yang akan dihabiskannya sendirian.
Cobalah untuk berbagi dengan orang lain karena hal itu tidak akan membuat anda menjadi miskin. Mulailah dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan semampu kita dan hapuslah citra pribadi pelit di mata orang lain.

7. Keras kepala

Memang teguh pendirian atas hal-hal yang prinsipal itu sangat bagus, namun orang yang keras kepala biasanya suka ngotot untuk permasalahan yang sepele, ribut untuk urusan yang tidak penting, berdebat untuk merebut pepesan kosong, tidak mau sedikitpun mendengar nasehat orang lain, merasa dirinya paling benar, haram untuk mengalah, tidak mau mengakui kesalahannya, dsb. Cobalah untuk menghindari hal-hal tersebut. Tetaplah menjadi seorang pribadi yang teguh didalam pendirian yang benar namun fleksibel dalam hal atau urusan yang tidak prinsipil.

8. Sombong

Orang yang sombong merasa dirinya adalah superior dalam segala hal dibandingkan orang lain. Itu semua dapat tercemin dari kecendrungannya yang mudah mengkritik, mencela dan menganggap remeh orang lain; biasanya juga orang sombong suka pamer, suka bergaya ekslusif dan suka memilah atau memilih-milih dalam bergaul.
Kebanyakan orang tidak menyukai atau tertarik dengan orang yang sombong. Justru kerendahan hatilah yang dianggap sebagai salah satu sifat yang mulia yang disukai kebanyakan orang.

9. Sensitif

Orang yang sensitif sebetulnya tanpa disadarinya telah memasang pagar pemisah dengan orang lain. Perasaannya yang mudah tersinggung dan hatinya yang mudah terluka oleh ucapan atau sikap orang lain, meskipun orang lain tersebut sedikitpun tidak mempunyai maksud untuk menyerang, namun orang yang terlalu sensitif bisa saja menganggap itu semua sebagai suatu serangan yang melukai hati. Akibatnya, orang lain cenderung menjaga jarak / menjauhinya karena takut tanpa sengaja menyakitinya. Kalau mau jujur seringkali perasaan itu hanya reaksi perasaan diri sendiri yang salah mengartikan.

10. Bohong

Orang yang hobi bohong biasanya bisa menghasilkan suatu kebohongan dengan spontan, kreatif, tampak wajar bahkan dapat meyakinkan orang lain. Kebohongan terkadang cukup efektif untuk menyembunyikan atau menutupi kekurangan, untuk mencari alasan, untuk mengecoh orang lain atau untuk menghalalkan dosa. Namun kalau sudah terbongkar, sangat sulit untuk menghapus citra pembohong pada pikiran orang lain. Berusahalah untuk menghilangkan kebiasaan berbohong sebab sekali langsung keujian seumur hidup tidak akan dipercaya.

6 Pertanyaan Untuk renungan kita bersama…

1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ?
2. Apa yang paling jauh dari kita di dunia ?
3. Apa yang paling besar di dunia ?
4. Apa yang paling berat di dunia ?
5. Apa yang paling ringan di dunia ?
6. Apa yang paling tajam di dunia ?

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya….

Pertama : “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”.
Murid-muridnya menjawab “orang tua,guru,kawan,dan sahabatnya”. Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “MATI”. Sebab itu sememangnya janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)

Kedua : “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”.
Murid -muridnya menjawab “negara Cina, bulan, matahari dan bintang – bintang”. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawapan yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “MASA LALU”. Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Ketiga : “Apa yang paling besar di dunia ini?”.
Murid-muridnya menjawab, “gunung, bumi dan matahari”. Semua jawapan itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “NAFSU” (Al A’Raf 179).
Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Keempat : “Apa yang paling berat di dunia ini?”.
Ada yang menjawab “besi dan gajah”. Semua jawapan adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah “MEMEGANG AMANAH” (Al Ahzab 72).
Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Kelima : “Apa yang paling ringan di dunia ini?”…
Ada yang menjawab “kapas, angin, debu dan daun-daunan”. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan sholat, gara-gara bermesyuarat kita meninggalkan sholat.

Keenam adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”…
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, “pedang”. Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “LIDAH MANUSIA” Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

40 NASEHAT SAIYIDINA ALI

Berikut adalah 40 nasihat Saiyidina Ali sebagaimana yang terdapat idalam kitab Nahjul Balagh dan Al-Bayan Wattabyeen r.a. :

1. Pendapat seorang tua adalah lebih baik daripada tenaga seorang muda.
2. Menyokong kesalahan adalah menindas kebenaran
3. Kebesaran seseorang itu bergantung dengan qalbunya yang mana adalah sekeping daging
4. Mereka yang bersifat pertengahan dalam semua hal tidak akan menjadi miskin
5. Jagailah ibu bapa kamu,niscaya anak-anakmu akan menjagai kamu
6. Bakhil terhadap apa yang ditangan adalah tidak mempunyai kepecayaan terhadap Allah
7. Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau keangin. Tidak ada yang terpencil dari seorang yang bakhil
8. Seorang arif adalah lebih baik daripada arif.Seorang jahat adalah lebih jahat daripada kejahatan
9. Ilmu adalah lebih baik dari pada kekayaan kerana kekayaan harus dijagai ,sedangakn ilmu menjaga kamu
10. Jagalah harta bendamu dengan mengeluarkan zakat dan angkatkan kesusahan mu dengan mendirikan sembahyang
11. Sifat menahan kemarahan adalah lebih mulia daripada membalas dendam
12. Mengajar adalah belajar
13. Berkhairatlah mengikut kemampuan mu dan janganlah kamu jadikan keluargamu hina dan miskin
14. Insan terbahagi kepada 3 :
mereka yang mengenal Allah
mereka yang mencari kebenaran
mereka yang tidak berpengetahuan dan tidak mencari kebenaran. Golongan yang terakhir inilah yang paling rendah dan tak baik sekali dan mereka akan ikut sebarang ketua dengan buta seperti kambing

15. Insan tak akan melihat kesalahan seorang yang bersifat tawadhu’ dan lemah
16. Janganlah kamu takut kepada sesiapa melainkan dosamu terhadap Allah
17. Mereka yang mencari kesilapan dirinya sendiri adalah selamat dari mencari kesilapan orang lain
18. Harga diri seseorang itu adalah berdasarkan apa yang ia lakukan untuk memperbaiki dirinya
19. Manusia sebenarnya sedang tidur tetapi akan bangun bila ia mati
20. Jika kamu mempunyai sepenuh keyakinan akan Al-Haq dan kebenaran, nescaya keyakinanmu tetap tidak akan berubah walaupun terbuka rahsia2 kebenaran itu.
21. Allah merahmati mereka yang kenal akan dirinya dan tidak melampaui batas
22. Sifat seseorang tersembunyi disebalik lidahnya
23. Seorang yang membantu adalah sayapnya seorang yang meminta
24. Insan tidur di atas kematian anaknya tetapi tidak tidur di atas kehilangan hartanya
25. Barangsiapa yang mencari apa yang tidak mengenainya nescaya hilang apa yang mengenainya
26. Mereka yang mendengar orang yang mengumpat terdiri daripada golongan mereka yang mengumpat
27. Kegelisahan adalah lebih sukar dari kesabaran
28. Seorang yang hamba kepada syahwatnya adalah seorang yang lebih hina daripada seorang hamba kepada hamba
29. Orang yang dengki marah kepada orang tidak berdosa
30. Putus harapan adalah satu kebebasan , mengharap (kepada manusia) adalah suatu kehambaan
31. Sangkaan seorang yang berakal adalah suatu ramalan
32. Seorang akan mendapat tauladan di atas apa yang dilihat
33. Taat kepada perempuan(selain ibu) adalah kejahilan yang paling besar
34. Kejahatan itu mengumpulkan kecelaan yang memalukan
35. Jika berharta, berniagalah dengan Allah dengan bersedekah
36. Janganlah kamu lihat siapa yang berkata tetapi lihat apa yang dikatakannya
37. Tidak ada percintaan dengan sifat yang berpura2
38. Tidak ada pakaian yang lebih indah daripada keselamatan
39. Kebiasaan lisan adalah apa yang telah dibiasakannya
40. Jika kamu telah menguasai musuhmu, maafkanlah mereka, kerana perbuatan itu adalah syukur kepada kejayaan yang telah kamu perolehi.

From : “hanapiah abu khalifah”

Sharifah Ennie Suhaina Syed Agel
Internal Audit
ext. 03-21602590

10 Muharram

Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda, “Seutama-utama puasa sesudah puasa bulan Ramadan ialah puasa bulan Muharram dan seutama-utama solat sesudah solat fardu ialah solat malam”. (Sahih Muslim)

Abu Musa Al Madani meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a.; “Barangsiapa yang berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram) adalah seperti berpuasa setahun dan siapa yangg bersedekah pada hari Asyura adalah bagiku bersedekah setahun.” Riwayat Albazzar

Dari Abu Qatadah Al-Anshari r.a. katanya Rasulullah s.a.w. ditanya orang tentang puasa hari arafah (9 Zulhijjah). Jawab baginda, “Semoga dapat menghapus dosa tahun yang lalu dan yang akan datang”. Kemudian Nabi ditanya pula tentang puasa hari asyura (10 Muharram). Jawab baginda, “semoga dapat menghapus dosa tahun yang lalu”. (Sahih Muslim)

Dari Aisyah r.a. katanya “Biasanya orang Quraisy pada masa jahiliah berpuasa pada hari asyura dan Nabi s.a.w. pun berpuasa. Ketika Baginda tiba di Madinah, Baginda juga berpuasa pada hari asyura dan menyuruh orang lain berpuasa juga”. (Sahih Muslim)

Dari Salamah bin Akwa r.a. dia menceritakan bahawa Rasulullah s.a.w. mengutus seorang lelaki suku Aslam pada hari Asyura dan memerintahkan kepadanya supaya mengumumkan kepada orang ramai, “Sesiapa yang belum puasa hari ini hendaklahlah dia berpuasa dan siapa yang telah terlanjur makan hendaklahlah dia puasa juga sejak mendengar pemgumuman ini sampai malam”. (Sahih Muslim)

Dari Ibnu Abbas r.a katanya, ” Penduduk Khaibar berpuasa pada hari asyura dan menjadikannya sebagai hari raya, dimana wanita mereka memakai perhiasan dan pakaian yang indah pada hari itu. Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda, “Puasalah kamu pada hari itu”. (Sahih Muslim)

Dari Ibnu Abbas r.a. katanya, ketika Nabi s.a.w. tiba di Madinah, Baginda melihat orang yahudi berpuasa pada hari asyura. Nabi pun bertanya, “Hari apa ini ?”. Jawab mereka, “Hari ini ialah hari yang baik. Pada hari ini Allah melepaskan Bani Israil dari musuh mereka, kerana itu Nabi Musa berpuasa kerananya”. Sabda Nabi, “Aku lebih berhak daripada kamu dengan Musa”. Oleh itu Nabi berpuasa dan menyuruh orang lain berpuasa pada hari asyura. (Sahih Bukhari)

Rasulullah s.a.w. bersabda; “Berpuasa kamu pada hari ke sembilan dan sepuluh Muharam dan jangan meniru cara orang-orang Yahudi.” – Riwayat Al Baihaqi

Puasa hari ‘Asyura’, Tasu‘a’ dan kesebelas Muharram Puasa hari ‘Asyura’ ialah puasa sunat pada hari kesepuluh bulan Muharram. Diriwayatkan daripada Mu‘awiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu ‘anhuma berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Maksudnya : “Ini adalah hari ‘Ayura’ dan tidak diwajibkan ke atas kamu berpuasa sedangkan aku berpuasa. Maka barangsiapa yang hendak berpuasa maka berpuasalah dia dan barangsiapa mahu (tidak berpuasa) maka berbukalah dia (boleh tidak berpuasa).” (Hadits riwayat Bukhari) Hikmat berpuasa pada hari ‘Asyura’ sebagaimana yang diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata : Maksudnya: “(Tatkala) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di Madinah, baginda melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’. Baginda bersabda: “Apakah ini?” Mereka menjawab : “Hari yang baik, ini adalah hari yang mana Allah menyelamatkan Bani Israil daripada musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu” Nabi bersabda : “Aku lebih berhak dengan Musa daripada kamu” Lalu Baginda berpuasa dan memerintahkan berpuasa (pada hari itu.)” (Hadits riwayat Bukhari) Kelebihan berpuasa di hari ‘Asyura’ sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abu Qatadah Al-Anshari berkata :

Maksudnya: “Dan ditanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang berpuasa pada hari ‘Asyura’? Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu.” (Hadits riwayat Muslim) Adalah disunatkan juga di samping berpuasa pada hari ‘Asyura’, berpuasa pada hari Tasu‘a’ iaitu hari yang kesembilan bulan Muharram berdasarkan riwayat daripada Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata:

Maksudnya: “Dahulu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan Baginda memerintahkan (para sahabatnya) untuk melakukan puasa itu, mereka berkata: “Wahai Rasulullah! (Bukankah) sesungguhnya hari ‘Asyura‘ itu hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apabila pada tahun yang akan datang, Insya Allah kita akan berpuasa pada hari yang kesembilan” Berkata Abdullah bin Abbas: “Belum sempat menjelang tahun hadapan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah pun wafat.” (Hadits riwayat Muslim) Para ulama menyebutkan bahawa hikmat disunatkan berpuasa pada hari Tasu‘a’ (sembilan Muharram) itu dari berbagai-bagai aspek: 1. Bagi menyalahi atau membezakan amalam orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura’ (Sepuluh Muharram) sahaja. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Maksudnya : “Berpuasalah kamu pada hari ‘Asyura’ dan buatlah perbezaan padanya (dari) orang Yahudi (dengan) berpuasa sehari sebelumnya atau sehari selepasnya.” (Hadits riwayat Ahmad) 2. Bagi maksud berhati-hati berpuasa pada hari ‘Asyura’ kerana kemungkinan berlaku kesilapan kekurangan dalam pengiraan anak bulan. Maka dengan itu hari kesembilan Muharram itu dalam pengiraan adalah hari yang kesepuluh Muharram yang sebenarnya. 3. Bagi maksud menyambung puasa hari ‘Asyura’ dengan satu hari puasa yang lain kerana tegahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa satu hari satu-satunya sahaja seperti berpuasa pada hari Jumaat. Walaupun begitu, tidaklah menjadi apa-apa jika hanya berpuasa sehari sahaja pada hari ‘Asyura’. (lihat I‘anah Ath-Thalibin 2/301) Oleh kerana itu disunatkan juga, jika berpuasa pada hari ‘Asyura’ tanpa berpuasa pada hari Tasu‘a’, supaya berpuasa pada hari kesebelas Muharram. Bahkan Imam Syafi‘e Rahimahullahu Ta‘ala menyebutkan di dalam Kitab Al-Umm dan Al-Imla’ disunatkan berpuasa tiga hari tersebut iaitu hari kesembilan (Tasu‘a’), kesepuluh (‘Asyura’) dan kesebelas bulan Muharram.

sumber:
Lisha Abubakar (catatan Facebook) 30 Desember 2009 jam 10:23